Kamis, 24 September 2009

Ketika Kumandang Takbir Terdengar Ditelingaku

Saudaraku,
Merayap bergema beduk lebaran
Pengikut Muhammad menabur takbir
Semua itu telah terkikis direnggut waktu
Namun masih terngiang sebuah kisah kecil
yang menghiasi layar lebaran.

Kumandang takbir masih jelas terdengar
namun sayup2 mulai menghilang bersamaan dengan roda vespaku mulai berputar

Allahu Akbar.......... Allahu Akbar

Hari masih gelap dengan hiasan awan yang semakin kelabu di langit.
Udara yang dingin masih menusuk nusuk ke dalam kulit.
Setiap helaan nafas orang-orang yang lalu lalang terlihat asap pertanda udara malam ini begitu dingin.

Suara angin mulai terdengar keras tatkala menerpa pepohonan.
kala itu angin malam masih setia menggodaku dengan hembusannya,
pelan.........lembut namun membuat dingin tulang rusukku.
Diantara jalanan yang beraspal,
vespaku masih tetap lincah menyusuri pedusunan,
walau dengan suara yang agak keras (tak heran bila anakku menyebutnya Vespa Jadul).

akhirnya sampai juga aku dan bekas pacarku di rumah,
tak lama kemudian hujan mengguyur kotaku.
Alhamdulillah.....hujan turun tidak saat aku masih di jalanan......dijamin dah basah kuyup!

Sambil menyeruput teh manis bikinan istriku,
aku sedikit menerawang pada bulan Ramadhan yang akan segera meninggalkan kita,
Apakah kita termasuk yang merindukan kehadiran bulan Ramadhan, saudaraku?
Jika ya, inilah keindahan bulan yang kita sangat rindukan itu sedang bersama kita. Inilah detik demi detik waktu, kita lalui bersamanya. Inilah masa-masa bahagia, masa-masa semakin dekatnya jiwa bersama Allah, masa-masa kedamaian hati yang belum tentu kita temui saat ia tidak bersama kita lagi.

Saudaraku,
Jika Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah dalam bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang melakukan ibadah wajib di bulan selain Ramadhan. Dan barang siapa yang melakukan ibadah wajib di bulan Ramadhan maka ia seperti orang yang melaksanakan 70 ibadah wajib di selain bulan Ramadhan". (HR Ibnu Khuzaimah). Maka berpisah dengan bulan ini berarti meninggalkan kesempatan meraih pahala kebaikan yang berlipat-lipat.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda, "Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Maka, perpisahan dengan bulan ini, berarti terlewatnya dua momentum kegembiraan di kala buka puasa itu.
Jika rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa karena keimanan dan semata-mata mengharap pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka, perpisahan dengan bulan ini adalah hilangnya kesempatan kita untuk memperoleh ampunan Allah SWT terhadap dosa-dosa kita yang menggunung.
Saudaraku,
Jika Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menunaikan qiyamul lail pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka usainya kebersamaan kita dengan bulan Ramadhan adalah lenyapnya kesempatan kita untuk menunaikan sholat malam dengan jaminan pahala ampunan atas dosa dan kekhilafan, yang kita sudah tenggelam di dalamnya.
Saudaraku,
Jangan sia-siakan detik-detik perpisahan ini. Rasakan benar-benar kehadiran kita disini, di bulan ini.
Lantunan dzikir, tilawah al-Qur'an, munajat, permohonan ampun di sini.
Buanh kepenatan, hilangkan rasa lelah. Hanya untuk hari-hari terakhir menjelang perpisahan dengan bulan penuh kemuliaan. Kejarlah segala yang tersulut dari diri kita pada malam Lailatul Qadr. Sekarang, saudaraku. Jangan tunda lagi.
Dan, menangislah. Karena kita pun harus berpisah dengan bulan ini.
Selamat berpisah Ramadhan 1430H,
Ya Rabbi, semoga hambamu dipertemukan kembali di Ramadhan 1431H. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar